Skip to main content

Muhasabah Kemenangan Dakwah

Pagi tadi saya membaca "Imamah dalam Sholat" Karya K.H Ihya' Ulumuddin pengasuh ponpes Al-Haramain di Pujon....

didalam buku beliau ada sub bab yang membahas tentang "Ancaman bagi orang-orang muslim yang telat dalam sholat berjama'ah"

Beliau mengutip salah satu hadits dari riwayat At-Tirmidzi sanadnya Abu Sa'id Al-Khudri. Ketika itu ada sebagian sahabat datang terlambat dalam sholat berjama'ahnya, kemudian dipanggil oleh Rasulullah saw. beliau bersabda: "Sholatlah kalian bersamaku, agar orang-orang setelah kalian sholat bersama kalian. Ketahuilah bahwa menunda untuk datang sholat berjama'ah kelak Allah akan menunda hisab kalian"

kemudian, saya berfikir dan merenung tentang hadits ini. Hingga pada kesimpulan, kenapa dakwah di kampus UIN ini tidak mencapai kemenangan yang dijanjikan oleh Allah. Karena ternyata, mungkin bisa jadi Allah memang menunda kemenangan kita. karena kita sendiri sering menunda panggilan Allah.

Tidak heran, ketika di kontrakan ikhwan begitu mendengar adzan mereka tidak langsung berangkat ke masjid tapi menunggu iqomat, karena masjid dekat dengan kontrakan mereka. Kemenangan begitu dekat dengan kita, tapi ternyata justru kitalah yang menunda kemenangan itu sendiri...

Ingatlah hadits qudsi yang Allah berfirman jika seorang hamba datang kepadaNya sejengkal, maka Allah akan datang kepadanya sehasta. Jika seorang hamba datang kepadaNya dengan jalan, maka Allah akan datang kepadanya dengan berlari. Begitu pemurahnya Yang Maha Pemurah,,,!!!

-Muhasabah-

Wallahu a'lam,,,

Comments

Popular posts from this blog

Prinsip 1 # Seri Ushul 'Isyrin

"Islam adalah sistem yang menyeluruh yang menyentuh seluruh segi kehidupan. Ia adalah negara dan tanah air, pemerintah dan ummat, akhlak dan kekuatan, kasih sayang dan keadilan, peradaban dan undang-undang, ilmu dan peradilan, materi dan sumber daya alam, penghasilan dan kekayaan, jihad dan dakwah, pasukan dan pemikiran, sebagaimana ia adalah aqidah yang lurus dan ibadah yang benar, tidak kurang dan tidak lebih." - pasal 1 Ushul 'Isyrin - Terlihat nampak jelas oleh kita, bahwa sesunguhnya pemikiran yang dibawa oleh Hasan al-Banna ini ketika diawal adalah memahamkan islam terlebih dahulu. Hasan al-Banna dengan berbagai intepretasinya, menegaskan bahwa sesungguhnya kehancuran islam adalah pemahaman yang lemah terhadap islam. Makanya disini beliau mengawali langkahnya dengan Syumuliyatul Islam. Kebencian orang-orang yang benci terhadap islam semakin membesar. Oleh karena itu, orang-orang yang benci terhadap islam menyeru agar orang-orang islam jauh terhadap agama...

Prinsip 2 # Seri Ushul 'Isyrin

"Al-Quran yang mulia dan sunnah Rasul yang suci adalah tempat kembali setiap muslim untuk memahami hukum-hukum Islam. Ia harus memahami Al-Quran sesuai dengan kaidah-kaidah bahasa Arab, tanpa takalluf (memaksakan diri) dan ta'asuf (serampangan). Selanjutnya ia memahami sunnah suci melalui rijalul hadits (perawi hadits) yang terpercaya." Pasal yang kedua ini, Ustadz Hasan al-Banna memberikan tentang landasan berpikir manusia. Memberikan landasan tentang kesempurnaan Islam. Setelah kita memahami kesempurnaan Islam, maka seyogyanya kita juga harus memahami landasan kenapa kita harus sempurna islam kita. Karena sesungguhnya, dua kitab itulah yang menjadikan Islam ini jauh lebih sempurna ketimbang agama yang lainnya. Ajarannya yang suci tidak lepas dari peran kedua kitab ini. Kitab ini juga yang menjadi wasiat Rasulullah ketika akan meninggal. Adakah yang lebih berharga daripada al-Quran dan as-Sunnah ketika rasulullah wafat ? Allah berfirman dalam surat an-Nisa : 59...

Prinsip 10 # Seri Ushul Isyrin

Ma'rifah kepada Allah dengan sikap tauhid dan penyucian(dzat)-Nya adalah setinggi-tinggi tingkatan aqidah islam. Sedangkan mengenai ayat-ayat sifat dan hadits-hadits shahih tentangnya serta berbagai keterangan mutasyabihat yang berhubungan dengannya kita cukup mengimaninya sebagaimana adanya, tanpa ta'wil dan ta'thil dan tidak juga memperuncing perbedaan yang terjadi diantara para ulama. Kita mencukupkan diri dengan keterangan yang ada, sebagaimana Rasulullah dan para sahabatnya mencukupkan diri dengannya. "Orang-orang yang mendalam ilmunya berkata : 'Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu berasal dari Tuhan kami (Ali-Imron : 7)'" Permasalahan dalam pasal 10 ini adalah tentang penafsiran kepada ma'rifat kepada Allah. Permasalahan ini muncul ketika mulai bermunculan aliran-aliran aqidah dalam islam, mulai dari qadariyah yang sepenuhnya percaya adanya takdir Allah dan mereka percaya bahwa segala sesuatu itu skenarionya suda...