Skip to main content

Posts

Pemuda, Kehilangan Identitasnya

Dalam waktu yang singkat ini, kita khususnya pada pemuda akan merayakan satu momentum yang sangat besar. Bahkan peristiwa ini dicatat dalam sejarah Indonesia. Ya, sumpah pemuda, para pemuda berkumpul, mereka berupaya merumuskan suatu solusi yang solutif untuk segera mengakhiri penjajahan di bumi pertiwi ini. Itu disaat jaman mereka, beda pula saat jaman kita. “itu adalah umat yang lalu; baginya apa yang telah diusahakannya dan bagimu apa yang sudah kamu usahakan, dan kamu tidak akan diminta pertanggungan jawab tentang apa yang telah mereka kerjakan.” Sekarang ini, kita sebagai pemuda hanya bisa mengambil manfaat daripadanya. Kata ulama Ibn Syakir al-Katibi: “ Allah telah memilih kita sebagai ummat yang terakhir dan memberitakan pada kita tentang keadaan orang-orang dahulu, agar yang lalu menjadi nasehat dan petunjuk untuk memasuki jaman yang masih hampa.” Jangan sampai sejarah emas yang dahulu ditorehkan oleh para pemuda hancur karena kita tidak melestarikannya. Jangan sampai kita ...

Belajar keimanan dari Ibunda Ismail.as

Masih terekam dalam memori otak kita bagaimana kisah dari Ibrahim yang diutus oleh Allah untuk dakwah ke Palestina. Sang istrinya, Hajar, ketika Ibrahim akan berangkat ke palestina ini bertanya pada Ibrahim; “Wahai Ibrahim mau kemana engkau ?”. Akan tetapi, pertanyaan itu tidak dijawab oleh kholilullah. Hal ini sangatlah wajar, karena saat itu hajar sedang hamil. Ibrahim tidak ingin menyakiti perasaan sang istri, kemudian ia melanjutkan perjalanannya. Akan tetapi, oleh Hajar ditanya lagi dengan pertanyaan yang sama. Dan Ibrahim pun tidak menjawab, ia tetap berjalan dengan perasaan yang sakit karena harus meninggalkan sang istri yang sedang hamil. Hingga pertanyaan ketiga dari Hajar, Ibrahim tetap melajutkan perjalanan. Karena merasa pertanyaannya tidak pernah dijawab oleh Ibrahim, maka Hajar mengganti pertanyaan; “Apakah ini adalah perintah dari Allah, kalau perintah dari Allah maka sekali-kali Allah tidak akan pernah meninggalkanku di tanah yang tandus ini. Maka seketika itu, Ibrahim ...

Euphoria di Pinggiran Sejarah

Perang Mu’tah telah usai, walaupun umat islam tidak mendapatkan kemenangan di sana. Bahkan, pasukan yang dipimpin oleh Khalid bin Walid dicaci oleh anak – anak dan warga yang berada di Madinah. Mereka dianggap sebagai pengecut karena telah melarikan diri dari pertempuran. Akan tetapi berbeda dengan sikap yang ditunjukkan Rasulullah, beliau mengganggap itu sebuah strategi perang dan dari situ, Khalid bin Walid dijuluki oleh Nabi gelar Saifullah al – Maslul. Sejenak kita merenungi dengan apa yang telah diperbuat oleh kaum muslimin saat itu. Kekuatan yang tidak sebanding dengan musuh yang waktu itu adalah Romawi yang berkekuatan dua ratus ribu prajurit melawan tiga ribu prajurit dari Muslimin. Maka pantas apa yang dilakukan oleh Khalid bin Walid ini mendapat pujian dari Rasul. Menyelamatkan nyawa yang banyak lebih diutamakan daripada mematikan mereka dalam satu waktu. Tapi apa dampak dari perang Mu’tah tersebut, ya, perang Mu’tah adalah dasar pijakan untuk menaklukan negeri – negeri yang...

Di Tengah Dunia Pragmatis

Melihat dunia sekarang ini yang semuanya hanya di penuhi oleh kemunafikan, banyak wajah-wajah yang menggunakan topeng hanya untuk menyembunyikan semua kebusukannya. Dunia yang semakin tak menentu arahnya, kemana dunia ini mengarah, akankah kepada pragmatis atau kepada dunia idealis ? Melihat realita yang sedang berkembang. Boleh rasanya kita membuat wacana yang sepertinya cocok untuk orang-orang realistis. Dunia ini, sungguh telah mengalami sebuah transformasi besar-besaran. Dan sangat tepat dengan apa yang diprediksikan oleh malaikat dalam salah satu ayat dalam surat al-baqarah.”ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: "Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya aku mengetahui ...

Membumikan Al-Quran

Istilah ‘membumikan al-quran’ ini pernah dipakai oleh Quraish Shihab dalam sebuah bukunya. Buku seorang pemikir besar tentunya sangat memiliki kredibilitas yang besar juga. Sehingga, ‘membumikan al-quran’ ini sangat mungkin digemari oleh beberapa kalangan. Sebenarnya, saya tidak ingin mengkritisi dari buku itu. Dan juga bukan untuk menjiplak. Hanya saja, judulnya yang membuat saya berpikir untuk menuliskannya kembali. ‘Membumikan Al-Quran’ sebenarnya adalah bagaimana mentransformasikan nilai-nilai al-quran ini di dalam kehidupan sehari-hari. Kalau kita sebagai keluarga, bagaimana memposisikan al-quran ini di tengah-tengah komunitas sosial yang terkecil sebagaimana al-quran telah mengajarkan kepada kita untuk berbakti kepada orang tua, bagaimana kita menyayangi adik-adik kita. Sehingga bisa tercipta suatu tatanan yang dimana bisa disebut dengan Keluarga Qur’ani . Kalau kita memposisikan al-quran di dalam masyarakat adalah sebagaimana nantinya, al-quran ini menjadi suatu dasar da...

Jamaah, Kekuatan Islam sesungguhnya

Sebelum saya memulai tulisan ini, saya akan mencoba untuk memberikan satu ayat yang mudah-mudahan member kita inspirasi. " إنّ الله يحب الذين يقاتلون في سبيله صفاً كأنهم بنيانٌ مرصوصٌ " “ Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam BARISAN YANG TERATUR seakan-akan mereka seperti SUATU BANGUNAN YANG KOKOH.” Ayat di atas sepertinya sudah sering didengar bagi yang suka membacanya. Dan sangat aneh bagi yang sangat jarang membacanya. Tapi, itu hanya sekedar pembukaan untuk memulai apa yang ingin saya sampaikan. Semoga apa yang saya tuliskan ini menjadi ajakan bagi semua ummat umumnya dan khususnya bagi orang islam sendiri. Saat ini, hampir semua bangsa mengalami perpecahan dalam bangsanya. Tidak lain adalah bangsa Indonesia. Ideologi nasionalisme ternyata tidak mampu mewadahi yang namanya persatuan. Nasionalisme hanya menjadi ajang legitimasi oleh orang-orang yang berkepentingan saja. Wadah yang pernah disukseskan oleh dua negara besar yaitu Pranc...

Membangun Arsitek Peradaban (Refleksi Kemerdekaan Indonesia ke-65)

Saya akan memulai awal tulisan ini dengan satu perkataan bijak dari Quran Surat Fushilat ayat 33 : "و من احسن قولاً ممن دعا الى الله و عملا صا لحا وقال : اننى من المسلمين " Yang artinya : “ Dan sebaik-baik perkataan adalah perkataan yang mengajak kepada Allah dan amalan yang shalih dan berkata : bahwa sesungguhnya saya termasuk orang yang muslim. “ Saya berharap, ini menjadi suatu tulisan yang nantinya menjadi perkataan yang mengajak kepada Allah. Sebentar lagi sejarah indonesia akan kembali terulang. Kemerdekaan Indonesia atas segala penjajahan. Pada tanggal 17 agustus nanti, kita akan menyaksikan gegap gempita dari rakyat indonesia. Nanti juga akan kita saksikan di seluruh nusantara ini akan banyak perlombaan untuk menyemarakan kemerdekaan ini. Tapi, apakah kemerdekaan ini harus diwarnai dengan banyaknya perlombaan, apakah kemerdekaan ini harus diwarnai dengan senang-senang. Yang menjadi istimewa dalam perayaan kemerdekaan ini adalah bertepatan dengan puasa. Sehingga k...